MEDAN| Aksi penyusupan Mario Steven Ambarita (21), yang masuk ke ruang roda pesawat bukan hal baru di dunia penerbangan di Indonesia. Kisah serupa juga pernah dilakukan 3 warga Medan tahun 1997 dan 2011.
Adalah Manto Manurung dan Siswandi Nurdin Simatupang. yang ditemukan mengigil di ruang roda Garuda Airbus A300-B4. Terbang dari Bandara Polonia Medan dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, sontak mengejutkan khayalak ramai.
Peristiwa ini terjadi pada Selasa 23 September 1997. Pesawat dengan 149 penumpang itu lepas landas pukul 7 lebih 30 menit. Mendarat di Jakarta pukul 9 lebih 47 menit. Dua jam lebih di langit.
Kisah "perjalanan" Manto dan Siswandi itu diketahui saat petugas yang hendak memasang chock pada roda depan pesawat. Ada sebagian baju yang menyembul dari ruang roda depan itu. Setelah diperiksa, ternyata petugas menemukan keduanya melipat tubuh di sana.
Manto ditemukan dalam kondisi lemah. Kaki kanan remaja setinggi 1,5 meter itu cedera. Pergelangan tangan kiri terluka. Sedang Siswandi, yang tingginya 1,65 meter seperti Tarsono, lebih bugar. Hanya tangan kanan sedikit lecet.
Salah satu dari mereka baru berhasil dikeluarkan pukul 10 lebih 30 menit. Ruang roda yang begitu sempit menyulitkan para petugas.
Banyak orang tercengang. Bagaimana dua remaja itu bisa selamat. Mereka bisa saja tergencet roda, yang saat masuk ke ruang penyimpanan berputar dan amat panas. Mereka juga harus bertahan dengan suhu minus 50 derajat selsius selama pesawat melayang di ketinggian 30 ribu kaki.
Apalagi, ruang persembunyian itu tidak bertekanan seperti kabin penumpang. Ruang roda tempat Manto dan Siswandi melipat tubuh memang sedikit lebih luas. Ruang itu juga jauh lebih dingin. Itu sebabnya mereka mengigil. Salah satunya bahkan pingsan.
Modal Nekat
Sebagaimana ditulis media massa saat itu, Manto dan Siswandi memang sudah merencanakan aksi "penerbangan" itu. Rencana itu tercetus pukul 10 malam, pada Senin 22 September 1997. Mereka mematangkan rencana "gila" ini di kamar kos Siswandi.
Setelah dirasa cukup matang, mereka bergegas ke bandara Polonia. Hari masih gelap. Pukul 3 pagi. Menyelinap lewat parit. Lokasinya tak jauh dari landasan pacu. Dari parit itulah mereka mengendap ke ruang roda pesawat.
Semula mereka berempat. Namun, dua temannya lebih rasional. Memutuskan tinggal. Hanya Manto dan Siswandi yang main "seruduk'.
Keduanya bertahan di "tempat persembunyian" selama kurang lebih 4,5 jam. Pukul 4 lebih 30 menit, teknisi memeriksa pesawat dan menyatakannya dalam kondisi baik. Tiga jam kemudian pesawat lepas landas.
Siswandi berkisah bahwa dia sempat sesak napas saat pesawat melayang di langit. Mungkin karena kekurangan oksigen. Lalu dia tertidur. "Tidurnya ya jongkok," katanya. Sementara Manto, masih terus membuka mata.
Saat ditemukan, mereka sama sekali tak membawa kartu identitas. Beruntung Siswandi tak selemah Manto. Sehingga masih bisa menyebutkan nama sekolah dan alamat orang tuanya di Batangkuis, Deliserdang. Siswandi mengaku, nekat terbang dengan cara berbahaya ini karena sering bolos sekolah dan takut dikeluarkan.
Cerita Yasril
Kisah yang hampir sama juga pernah dialami Yasril Bukit di tahun 2011. Namun aksi pria asal Helvetia, Medan itu kadung ketahuan petugas Bandara Polonia Medan. Petugas mendapatinya saat berupaya menyusup masuk ke dalam pesawat Lion Air saat sedang parkir.
Diakuinya, Yasril mengaku menyusup melalui gorong-gorong yang ada di sisi landasan pacu. Pelaku diamankan setelah petugas Polisi Militer Pangkalan TNI Angkatan Udara Medan mendapati pelaku sedang duduk si kursi 2C maskapai Lion Air dengan nomor penerbangan JT 211, Senin pagi sekitar pukul 04.30 WIB.
Setelah menjalani pemeriksaan, pelaku kemudian diserahkan ke Pos Polisi Bandara Polonia Medan Senin sore sekitar 17.00 WIB. Kepada polisi, Yusril menyatakan dia nekat naik ke pesawat Lion Air karena ingin merasakan naik pesawat.
Pria bertato tersebut ingin menuju Bali. "Saya belum pernah naik pesawat. Karena itu saya masuk. Saya mau ke Bali," kata Yusril, Senin (7/2/2011).
"Untuk mengelabui petugas, pelaku memakai rompi petugas bandara berwarna kuning. Saat ditemukan, pelaku duduk di dalam pesawat," terang Kepala Pos Polisi Bandara Polonia AKP yang kala itu dijabat H Sihombing. [ded|berbagaisumber]
Tidak ada komentar